Sejarah Singkat

Semua orang akan terkesima dengan SMA Negeri 2 Purbalingga saat ini. Taman yang terawat di depan kelas, kolam ikan dengan teratai mekar di permukaannya, dan gazebo yang berdiri gagah, dapat dilihat dengan mudah di lahan seluas 15.000 m2. Lebih dari seribu siswa belajar dengan nyaman di sekolah yang mendapat predikat sekolah Adiwiyata Nasional ini. Tetapi lain halnya jika kita berkunjung ke SMA Negeri 2 Purbalingga pada tahun 1993.

SMA Negeri 2 Purbalingga merupakan sekolah kelima yang berdiri di kabupaten Purbalingga. Sekolah ini dibangun setelah SMA  Negeri 1 Purbalingga, SMA Negeri 1 Bobotsari, SMA Negeri 1 Rembang, dan SMA Negeri 1 Bukateja.

Selama gedung sekolah dibangun, siswa SMA Negeri 2 Purbalingga belajar di gedung  SMA Negeri 1 Purbalingga pada sore hari selama 6 bulan. Mereka pindah ke gedung SMA Negeri 2 Purbalingga pada tanggal 23 Februari 1993. Tanggal ini tidak ditetapkan sebagai hari jadi sekolah, tetapi pemerintah memutuskan tanggal ulang tahun sekolah adalah 27 Agustus, ketika sekolah mendapatkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Tidak mudah membangun sebuah sekolah di wilayah Bancar, Purbalingga. Masyarakat di sekitar SMA Negeri 2 Purbalingga merasa terganggu, karena gedung sekolah menghalangi jalan mereka ke sungai. Pasalnya pada saat itu, sungai sangat berperan penting untuk mengakomodasi kebutuhan sehari-hari masyarakat Bancar.

Perlu waktu bagi masyarakat Bancar untuk menerima SMA Negeri 2 Purbalingga. Sekolah berusaha berkomunikasi dengan masyarakat Bancar, dan berkolaborasi dalam kegiatan sosial seperti membagikan sembako, daging kurban, dan zakat fitrah. SMA Negeri 2 Purbalingga juga memberikan bantuan sarana olahraga untuk para pemuda Bancar, dan membuatkan saluran drainase dari pemukiman ke sungai. Selain itu, SMA Negeri 2 Purbalingga juga merekrut warga Bancar untuk bekerja di sekolah.

Pada awalnya, gedung sekolah terdiri dari tiga kelas, ruang guru, ruang tata usaha, perpustakaan, dan lobi seluas 3 meter. Area sekolah dikelilingi oleh lapangan dan rawa. Tidak ada pagar kokoh yang mengelilingi sekolah. Bahkan ketika para siswa belajar, mereka akan mendengar suara petani dan kerbaunya. Selain itu, ketika musim hujan datang, keadaan lingkungan sekolah akan semakin memburuk.

Pada awal berdiri, ruang kelas hanya terdiri dari kelas Fisika (A1), Kelas Biologi (A2), dan kelas IPS (A3) dengan wali kelas Drs. Kuntowo, Dra Win Hedratning Kurdianingsih, dan Drs. Mahfud Wahyudin. Selanjutnya, banyak guru dan karyawan dari SMAN 1 Purbalingga pindah ke SMAN 2 Purbalingga. Beliau-beliau adalah Puji Hartini, Sukarman, Wahyu Haryadi Sudiro, Sunarto Ar., Purwanta, Pujianto, Rochman Tofik, Tri Kuncoro, Widijanti Luthfiyani Kodari, Triani Puji Astuti, Ngudiati, dan Misno.

Kuntowo sendiri adalah guru yang berjasa dalam mengaransemen mars sekolah SMA Negeri 2 Purbalingga. Hingga sekarang mars sekolah tersebut masih dinyanyikan oleh warga SMA Negeri 2 Purbalingga. Sedangkan untuk logo sekolah, Purwanta dan  Rochman Tofik mengadakan lomba logo sekolah yang diperuntukan untuk mahasiswa. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan logo sekolah terbaik.

SMA Negeri 2 Purbalingga telah dipimpin oleh delapan kepala sekolah sejauh ini. Beliau-beliau adalah Drs. Slamet Achmad (1993), Nurijo Adam, BA (1993-1998), Drs. Mudjahid (1998-1999), Sukarman, S.Pd (1999-2003), Drs. Pamulartono (2003-2008), Dra. Nanik Indriyati (2008-2012), Drs. Kustomo (2012-2015), dan Joko Mulyanto, S.Pd. (2015-sekarang).

Writer : Irma Dwi Kurnia Setyorini